JUMLAH HUTANG NEGARA RI MENDEKATI 2000 TRILIUN


Pemerintahan SBY semakin kebingungan karena dengan terusnya bertambah beban negara, semakin tahun semakin bertambah, berbagai macam solusi terus di tempuh seperti menaikain lharga BBM dan tarif dasar listrik, ditambah pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu baik, sehingga beban yang harus dipikul pemerintah SBY semakin membengkak. APBN Perubahan 2012, yang sedang digodok DPR dan pemerintah, memunculkan sejumlah masalah baru. Salah satunya adalah pembengkakan utang yang harus ditanggung pemeirntah. Maklum, dengan asumsi defisit naik dari 1,5% menjadi 2,23%, akan ada kekurangan dana anggaran Rp50 triliun.
Rencananya, kekurangan ini akan ditutup dengan sisa lebih penghitungan anggaran (SILPA). Hanya saja, sisa anggaran yang tersisa pada 2011 jumlahnya hanya Rp39 triliun. Itu pun jika dana tersebut belum dipakai (dianggarkan) oleh kementrian/lembaga.
Sebab, begitu diketahui ada SILPA sebesar itu, sejumlah kementrian dan lembaga telah mengajukan permohonan pemanfaatan. Misalnya, Kementrian PU yang meminta dana tambahan sebesar Rp8 trliun untuk keperluan membangun sejumlah infrastruktur.
Nah, lantaran dana untuk menambal anggaran tidak mecukupi, pemerintah pun mengambil jalan pintas, yakni mencetak utang baru. Pembuatan utang baru ini, sejak awal memang sudah direncanakan. Dalam APBN 2012 disebutkan, pemerintah akan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) dengan nilai netto Rp134,5 triliun.
Jika rencana tersebut direalisasikan, otomatis, utang pemerintah akan mendekati angka Rp2.000 triliun. Soalnya, hingga Januari lalu saja, berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementrian Keuangan, kewajiban utang pemerintah telah mencapai Rp1.837,39 triliun. Itu berarti, sejak 2005, utang pemerintah telah naik Rp323,89 triliun atau 38,88%.
Fakta ini, jelas, akan mengakibatkan target SBY-Boediono, yang akan memangkas rasio utang berbanding produk domestic bruto (PDB) pada 2014 menjadi 25% menjadi semakin sulit tercapai. Sebab, dengan adanya penambahan utang baru tersebut, diitambah melambatnya pertumbukhan ekonomi, bukan mustahil rasio yang saat ini 25% malah menjadi naik menjadi 26%.

sumber:inilah.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s