TRAGEDI XENIA MAUT AFRIYANI, Tragedi Kecelakaan Maut Lalu lintas Di Tugu Tani Jakarta

Selasa, 24 Januari 2012, Afriyani Susanti yang berkaos biru tepekur sendirian di sel karantina nomor 22 di Blok B Rumah Tahanan Narkoba Polda Metro Jaya, Jakarta. Diungkapkan seorang sumber VIVAnews.com, pengendara Xenia maut itu tak terlihat menangis. Dia hanya tampak banyak-banyak mengaji di dalam bui.
Perempuan berumur 29 tahun itu tiba-tiba menjadi seorang pembunuh yang membetot perhatian publik. Daihatsu Xenia yang dikendarainya menabrak belasan pejalan kaki dan tak ayal menewaskan sembilan orang dan melukai empat lainnya. Malapetaka itu terjadi di Jalan MI Ridwan Rais, Tugu Tani, Jakarta Pusat, hari Minggu kemarin.
Kasus ini menambah deret panjang korban tewas di jalan raya. Data Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya menunjukkan sepanjang tahun 2011 terjadi 7.778 kasus kecelakaan lalu lintas di wilayah DKI Jakarta. Tak kurang, 9.731 orang jadi korban, termasuk 997 di antaranya meninggal dunia.
Dari hasil penyidikan, polisi akan menjerat Afriyani dengan pasal berlapis. Dia antara lain dinyatakan melanggar Undang-undang Lalu Lintas pasal 283 soal mengemudikan kendaraan bermotor secara tak wajar, pasal 287 ayat 5 tentang pelanggaran aturan batas kecepatan tertinggi atau terendah dalam berkendara, dan pasal 310 ayat 1 sampai 4 tentang mengakibatkan kecelakaan yang melukai dan menewaskan korban.
Belum habis, dia juga diancam Pasal 112 jo 123 sub 127 UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Toh begitu, Afriyani hanya diancam hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda Rp12 juta.
Tiga rekan Afriyani—masing-masing berinisial DNM, ART, dan ADP—pada Selasa, 24 Januari 2012, juga ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus narkoba dan ikut ditahan. Berdasarkan tes urin, keempat penumpang mobil Daihatsu Xenia B 2479 XI itu dinyatakan positif menggunakan ekstasi yang mereka beli di Diskotek Stadium.
Kepolisian memastikan penyidikan akan terus dikembangkan ke kasus narkoba. Kapolri Jenderal Timur Pradopo di Istana Negara, mengatakan, “Sudah dilakukan penyidikan oleh Polda Metro Jaya, tentunya bukan hanya kecelakaan tapi juga termasuk hasil yang mengarah kepada pemakaian obat terlarang.”
Untuk semakin memastikan penyebab kecelakaan maut itu, Polda Metro Jaya telah menurunkan tim analisis dari unit Pusat Laboratorium Forensik untuk melakukan identifikasi lanjutan di lokasi kecelakaan, bersama pihak Daihatsu, Dinas Perhubungan, dan Dinas Pekerjaan Umum. Selain untuk mengurai malapetaka itu, mereka mengecek keterangan Afriyani yang berkali-kali berdalih kalau rem mobilnya blong sehingga dia hilang kendali.
Ada empat faktor utama yang menjadi fokus penelitian: pengemudi, kondisi kendaraan, lingkungan atau cuaca, dan infrastruktur jalan. Berita-berita soal Xenia maut Afriyani bisa diklik di tautan ini.
Setelah meneliti lokasi, tim mekanik Daihatsu memastikan kalau mobil buatan tahun 2005 itu tidak punya masalah apapun pada komponennya, termasuk remnya–meski mobil tak dilengkapi fitur pengereman ABS (antilock break system). Mereka menyimpulkan, sebelum kecelakaan, Xenia tipe 1.3Xi (versi standar) ini masih layak dikendarai dan selalu diservis berkala. Lihat foto analisis lokasi kecelakaan di tautan ini.
“Minyak rem masih terisi penuh, tidak ditemukan kebocoran di bagian minyak rem. Meski bagian gardan bergeser, tapi komponen dan pipa sasisnya masih dalam konsisi utuh,” kata Head Domestic Marketing Divison Astra Daihatsu Motor (ADM), Rio Sanggau. “Kami cek kartu servisnya, mobil ini selalu rutin diperiksa di bengkel ADM.”
Yang jadi penyebab, tim analisis menyimpulkan, ketika itu Afriyani memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, di atas 80 km per jam. Hilang kendali, ban mobil menabrak trotoar, terguling, dan tanpa ampun menghantam sejumlah pejalan kaki.
Kecelakaan maut
Tragedi berdarah ini terjadi di Jalan MI Ridwan Rais, Tugu Tani, Jakarta Pusat. Menewaskan sembilan orang, Afriyani bersama tiga penumpang–satu perempuan dan dua laki-laki–selamat. Afriyani bahkan sempat marah-marah kepada seorang pejalan kaki yang juga nyaris ditabraknya.
Seorang saksi mata yang selamat menuturkan Xenia Afriyani melaju sangat kencang. “Mobil itu bukan ngebut lagi, tapi sangat kencang dan sempat oleng, zig-zag,” kata Suwarto, 54, seorang saksi mata.
Dikisahkan Suwarto, mobil datang dari arah Gambir. Ketika mendekati Tugu Tani, Xenia itu hilang kendali dan mulai menabrak para pejalan kaki di trotoar. Sebelumnya, mobil menabrak halte dan merangsek masuk ke halaman Kementerian Perdagangan. Di halaman kantor itu, Xenia menyeruduk dua orang lagi sampai terpental, sebelum berhenti.
“Ada seorang anak kecil yang terseret di bawah badan mobil. Setelah kejadian, saya gemetar. Ini semua pertolongan Yang Maha Kuasa, saya berhasil menghindar. Ini kejadian paling mengerikan,” kata Suwarto.
Sembari merinding, dia mengisahkan, usai kecelakaan sebagian besar korban tak lagi bergerak—termasuk eorang bocah berusia 2,5 tahun dan bayi tiga bulan di kandungan Nanik Riyanti (25).
Berikut adalah korban meninggal dalam kecelakaan maut itu:
1. Moch Hudzaifal alias Ujay, 16 tahun.
2. Firmansyah, 21
3. Suyatmi, 51
4. Yusuf Sigit, 16
5. Ari, 2,5
6. Nanik Riyanti, 25 (hamil 3 bulan)
7. Fifit Alfia Fitriasih, 18
8. Wawan Hermawan, 24
9. Mochamad Akbar, 23
Korban luka:
1. Siti Mukaromah, 30
2. Keny, 8
3. Indra, 11
4. Teguh Hadi Purnomo, 30.
Kepada polisi, Afriyani mengaku bahwa malam sebelum petaka itu, dia bersama ketiga temannya tak tidur setelah semalaman mengikuti pesta perpisahan kawannya yang hendak berangkat ke Australia. “Pada pk. 20.00-22.00 WIB, mereka ada di Hotel Borobudur, ada pesta,” kata Kepala Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya Komisaris Besar Pol. Nugroho Aji.
Setelah itu, mereka pindah dugem ke sebuah kafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, hingga pk. 02.00 WIB. Di sana mereka minum whisky dan bir. Belum puas, mereka lalu beranjak ke Diskotek Stadium di Jalan Hayam Wuruk. Di situ, mereka urunan membeli dua pil ekstasi dan baru keluar hari Minggu sekitar pk. 10.00 WIB. “Mereka berniat kembali ke Kemang, tapi keburu terjadi kecelakaan,” kata Nugroho.
Kini juga terungkap, Afriyani ternyata berkendara tanpa memiliki SIM dan membawa STNK.
Keluarga Afriyani pasrah mengakui kesalahan anak mereka. Hj. Yurnely (51), ibunda Afriyani, bahkan berniat menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban secara terbuka melalui media massa, Rabu. Mewakili keluarga, Bawuk, Ketua RT 011/07 Sungai Bambu, Tanjung Priok, mengatakan keluarga Afriyani juga akan memberikan dana santunan bagi keluarga korban.(sumber:vivanews)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s