KELEBIHAN KEKURANGAN MOBIL MENGGUNAKAN GAS, Manffat Mobil Menggunakan Bahan Bakar Gas

 Pria gondrong itu pamer mobil. Bukan mobil mewah. Honda Civic tahun 2007. Warna hitam. Kamis petang 12 Januari 2011 itu dia terlihat girang. Memakai kemeja biru lengan panjang dengan tas mengantung di bahu. Celana panjang abu-abu.

Dia ramah menunjuk interior mobil itu. Sejenak ia masuk ke dalam. Duduk di belakang kemudi, pencet sana-sini terus menclot keluar lagi. Lalu tangannya menujuk sebuah stiker di pintu.  “Mobil ini mengunakan bahan bakar gas.” Begitu tulisan di stiker itu.
Si gondrong dengan tas hitam buluk itu bukan penjaga showroom mobil, tapi  Widjajono Partowidagdo, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, yang dikenal nyentrik. Semenjak muda suka mendaki gunung. Jarang tampil berdasi jas. Rambut gondrong seperti bukan pejabat.
Kamis siang kemarin itu, ia mengajak wartawan ke sebuah bengkel di Serpong, Banten. Ramai-ramai mereka menumpang bus. Juga Pak Wakil Menteri itu.  Tiga jam di bengkel itu, Widjajono berusaha meyakinkan para wartawan bahwa beralih ke bahan bakar gas tidak susah, juga banyak untung.
Sembari memberi penjelasan, Widjajono bolak-balik ke bagasi mobil. Menunjuk sebuah tabung gas bewarna hitam. Lalu memperagakan bagaimana memasang alat itu. Menunjuk sebuah converter kit. Terus menjelaskan cara kerjanya. “Ini supaya bisa lebih hemat dan ramah lingkungan,” katanya berkampanye.
Hemat. Itu salah satu alasan pemerintah mengalihkan pengunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Bahan Bakar Gas Cair. Secara teknis disebut LVG. Selanjutnya kita sebut saja gas. Harga gas memang lebih murah ketimbang minyak. Tapi jika enggan memilih gas, Anda tetap bisa memilih minyak.  Tapi sonder subsidi. Artinya Anda tidak bisa pakai premium yang disubsidi itu. Jadi harus membeli Pertamax di Pertamina. Membeli Shell Super jika ingin berhenti di Shell. Membayar Perfomance di Total. Dan merogoh dompet demi Primax di Petronas.

Dua pilihan itu ditangan Anda. “Menggunakan Pertamax atau beralih ke gas,” kata Widjajono saat berbincang dengan VIVAnews.com di ruang kerjanya, di Kementerian Energi, Jakarta, Rabu pagi, 11 Januari 2012.

Dua pilihan itu memang sudah lama disiapkan pemerintah. Sudah ada pula dasar hukumnya. Pasal 7 Ayat 4 Undang-undang APBN 2012. Ayat itu mengatur subsidi BBM. Di sana diatur bahwa subsidi harus tepat sasaran. Konsumsi juga harus dikendali. Penjelasan ayat itu lebih rinci dan tegas, premium harus dibatasi. Kendaraan roda empat milik pribadi dilarang keras memakai premium. Dan aturan ini mulai berlaku 1 April 2012.
Pembatasan dan pengalihan itu banyak guna. Setidaknya itu menurut penjelasan pemerintah. Pemakaian premium berkurang, subsidi menurun dan kas negara bisa berhemat. Subsidi minyak selama ini memang menjulang tinggi. Saban tahun Rp270 triliun. Jumlah itu hampir seperempat dari total APBN. Duit segunung itu memang bukan hanya untuk subsidi minyak, tapi juga untuk listrik. Tapi listrik jadi mahal juga karena minyak harganya meroket. 
Sudah subsidi salah sasaran pula. Premium sesungguhnya untuk kalangan bawah. Mereka yang tak mampu. Tapi mereka yang mampu membeli mobil, kerap kali menimba dari tangki subsidi itu. “Daripada uang ini digunakan untuk subsidi yang tidak efisien, lebih baik untuk membangun yang lain,” kata Widjajono. Duit subsidi itu, lanjutnya, bisa dipakai membangun infrastruktur. Menolong kaum miskin yang hari-hari ini menjamur di kolong jembatan kota.
Selain kas negara berhemat, Anda sendiri juga bisa berhemat. Lihat perbandingan berikut ini. Harga Pertamax saat ini dipatok Rp8.600. Itu harga tanpa subsidi. Jika selama ini Anda memakai premium, maka semenjak 1 April nanti Anda harus memakai Pertamax dengan harga yang mahal itu.
Anda bisa berhemat dengan pindah ke gas. Harga jauh di bawah.  Jenis Vi-Gas cuma dipatok diharga Rp5.600 per liter setara premium. Jauh lebih murah dari Pertamax. Vi-Gas itu adalah merek dagang gas LGV dari Pertamina. Ada lagi yang lebih murah dari itu. Namanya CNG/BBG. Ini jenis gas berkompresi tinggi. Cuma Rp4.100. Murah memang.
Tapi yang murah itu cuma untuk angkutan umum. Hanya dijual di stasiun tertentu saja. Di seluruh Jakarta cuma ada 10 tempat. Sedang yang LGV lebih banyak. Setidaknya 21 SPBU. Dari segi perbandingan konsumsi, memakai gas juga lebih hemat. Konsumsi pertamax 1:8 sedang gas 1:10. Artinya satu liter pertamax bisa dipakai sejauh 8 kilometer. Sedang gas 10 kilometer.
Pembakaran gas juga jauh sempurna daripada minyak. Sebab angka oktan gas jauh lebih tinggi dari minyak.  Gas 110 dan premium 88. Dan jumlah oktan berbanding terbalik dengan tingkat polusi. Semakin rendah oktannya makin tinggi polusinya. Jadi dengan pindah ke gas, Anda membantu udara kota menjadi lebih sehat.
Jadi pindah ke gas itu banyak untungnya. Pemerintah sudah menyiapkan semua rencana itu.  Disusun oleh tim khusus. Kini semuanya terserah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah menempuh pengalihan itu atau tidak. “Semua di tangan Pak Presiden,” kata Widjajono.
Partai politik , pengusaha dan sejumlah ekonom sudah mendukung pula. Ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, misalnya, setuju dengan alasan supaya subsidi minyak bisa ditekan. Sebab selain membebani anggaran, kata Fauzi, sebagian besar subsidi itu justru dinikmati kalangan menengah atas.
Sayangnya, lanjut Fauzi, hitung-hitungan ekonomis ini kerap kali tenggelam oleh keriuhan politik. Jadi ini benar-benar soal keberanian pemerintah, terutama presiden. “Presiden berani mengeluarkan aturan itu atau tidak,” kata Fauzi. Selain soal keberanian presiden itu, juga soal infrakstruktur. “Sangat ideal bila pemerintah hanya membuat aturan, dan yang membangun infrastruktur adalah swasta.”

Cara Kerja Converter Kit
Jika sudah memutuskan memakai gas, ada baiknya Anda mempelajari cara kerja perpindahan. Alat apa saja yang perlu dibeli, di mana membeli, harga berapa, bagaimana cara kerja dan apakah keselamatannya membuat Anda meriang atau tidak.

Mari kita mulai dari awal. Jika mau memakai gas, Anda harus membeli alat yang namanya Converter Kit. Alat ini sudah dijual di sejumlah bengkel di kota besar. Dengan alat ini semua mobil yang selama ini memakai minyak bisa juga memakai gas. Bagaimana caranya? Mudah saja. Di dalam converter itu ada alat yang namanya Electronic Control Unit (ECU). Alat inilah yang akan mengatur pasokan gas ke dapur pacu mobil Anda.
Saat gas habis, ECU akan menolong. “Bahan bakar akan dipasok secara otomatis dari Pertamax,” kata Achmad Saichu, manager untuk proyek converter kit PT Dirgantara Indonesia. Pergantian ini akan otomatis. Tidak terasa. Pengendara juga tidak perlu berhenti. “Persis seperti peralihan mesin bensin ke motor listrik pada mobil hybrid,” katanya (Detail cara kerjanya, lihat infografik).
Tapi  ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui. Saat menghidupkan mobil pagi hari,  kata Achmad, Anda tidak bisa langsung memakai gas. Harus memakai BBM dulu. Setelah mesin panas, baru pindah ke gas.Artinya saat memanaskan mobil di garasi, Anda menghidupkannya dengan memakai BBM. Begitu hendak jalan tinggal pindah ke gas.  Cara pindahnya tidak rumit. Tinggal memencet tombol dekat setir.
Di dekat tombol itu ada lampu. Itu lampu tanda gas Anda sudah bisa dipakai atau belum.  “Kalau lampu gas sudah menyala, maka itu artinya mobil sudah bisa pakai gas,” ujar Saichu.
Soal keamanan tak perlu cemas juga. Sebab  selain dibikin PT Dirgantara Indonesia, sebagian alat Konverter Kit itu, kata  Dipo Tju — direktur bengkel Autogas Indonesia di Taman Tekno, Bumi Serpong Damai –diimpor dari perusahaan ternama di Italia. “Jadi standarnya sesuai negara asal,” kata Dipo.

Kini yang perlu Anda siapkan adalah uang yang cukup. Sebab harga Konverter Kit itu merogoh kocek. Autogas mematok harga Rp10 – 15 juta. Harga ini termasuk pemasangan. Garansi selama lima tahun.

Salah seorang pemilik Chevrolet Estate, Tonny Hilman, yang Kamis kemarin tengah memasang konverter kit di Autogas itu, mengaku lebih senang pakai gas daripada Pertamax. Sebab harga gas itu lebih murah 40 persen dari Pertamax. ” Itu yang lebih menguatkan saya memasang konverter kit,” katanya kepada VIVAnews.com.

Apa kata Para Pengusaha
Para pengusaha SPBU senang dengan rencana pengalihan ini. “Kami sangat senang,” kata Ketua Umum Hiswana Migas, Eri Purnomohadi, di Jakarta. Mereka juga senang jika diajak pemerintah membangun infrastruktur tangki gas di SPBU mereka.
Tapi mereka minta dana stimulus. Pinjaman murah membangun infrastruktur tempat pengisian gas. “Kami butuh investasi besar, seperti pembelian dispenser, tangki, dan pipanisasi gas,” kata Eri beberapa waktu lalu.
Bantuan pinjaman itu penting, sebab membangun sebuah stasiun gas memang cukup mahal. Satu SPBU memerlukan dana Rp1,5 miliar. Uang sebanyak itu dipakai untuk menambah tangki timbun dan dispenser. Alasannya, tangki timbun minyak tidak bisa diubah menjadi tangki gas.
Nah untuk membangun sebuah tangki timbun gas itu, diperlukan waktu enam bulan. Itu sebabnya, Eri meminta agar pemerintah membantu para pengusaha itu mendapat pinjaman dengan bunga kompetitif.
Saat ini, bunga pinjaman di bank masih tinggi. Sekitar 13 persen. “Indonesia bunganya termahal di ASEAN, 13 persen. Bandingkan dengan Malaysia yang hanya 6 persen,” keluh Eri.
Eri menganjurkan agar pemerintah mengikuti pola Thailand yang sukses mengalihkan bahan bakar minyak ke gas.  Dalam empat tahun, pemerintah negeri itu membangun 400mother station –depo BBG. Dan saat ini setidaknya 2,5 juta mobil di negeri gajah putih itu memakai gas.  (Baca: Belajar Gas ke Negeri Tango).
Sukses tidaknya program ini, kata Eri, sangat bergantung pada sosialisasi. Itu sebabnya pemerintah diminta gencar melakukan sosialisasi.  Saat ini, lanjutnya, masih banyak orang bingung dengan wacana pembatasan BBM itu. Perlu edukasi.  “Hari pertama nanti, sosialisasi dan edukasi masyarakat sangat menentukan,” kata Eri.
Banyak yang tertarik di bisnis ini, banyak pula yang tidak.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengaku tidak tertarik investasi pada stasiun pengisian bahan bakar gas, sebab untungnya tak banyak.
Ketua Umum Apindo, Sofjan Wanandi berpendapat, pembangunan infrastruktur gas itu sebaiknya dilakukan oleh perusahaan Badan Usaha Milik Negra yang bergerak di bidang minyak dan gas. “Cukup Pertamina yang ngurus itu,” kata dia saat dihubungiVIVAnews.com di Jakarta, Jumat 13 Januari 2012.

Sebab, lanjutnya, Pertamina sudah berpengalaman dan  memiliki banyak SPBU di seluruh Indonesia. “Lagi  pula, untungnya juga tidak banyak,” kata Sofjan bercanda.

Kendati begitu, Sofjan menegaskan bahwa pengusaha yang bergabung dalam Apindo mendukung penuh program pengalihan dari minyak ke gas ini. “Kami dukung, dengan catatan pemerintah tetap mengawasi modus yang biasanya timbul dari kebijakan,” katanya.

Para pengusaha yang bergabung dalam Industri Kendaraan Bermotor Indonesia  juga mengaku mendukung kebijakan ini. Asal sosialisasinya jelas. “Yang pasti sebagian besar perusahaan akan berkonsultasi dengan prinsipalnya,” kata Ketua Umum Gaikindo Sudirman MR.

Konsultasi dengan prinsipal itulah yang akan dilakukan  Daihatsu Indonesia. Presiden Direktur Astra Daihatsu Motor akan berkonsultasi dengan Daihatsu Motor Co, di Jepang. “Nanti dari sana baru ada keputusannya, apakah kami harus memproduksi mobil gas atau hanya memasang konverter kit.”

Jika perusahaan mobil masih menunggu, sejumlah pemilik mobil kini sudah memasang konveter kit itu di sejumlah bengkel. Wakil Menteri Widjojono, bangga memamerkan konverter kit yang dipasang Kamis kemarin itu. “Supaya bisa lebih hemat,”  katanya. Mungkin itu mobil dinas pertama yang berpindah ke gas.(sumber:vivanews)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s