INILAH KRONOLOGIS TRAGEDI BERDARAH DI MESUJI-KRONOLOGIS Tragedi Pembantaian di Mesuji

<!–[if !mso]> st1\:*{behavior:url(#ieooui) } <![endif]–>

KRONOLOGI TRAGEDI MESUJI, PEMBANTAIAN DI MESUJI | Tragedi Mesuji, yang begitu memilukan, konflik antara warga sekitar dengan perusahaan pengelola perkebunan Sawit, sampai terjadi pembunuhan sadis serta pembantaian orang, hal tersebut menjadi perhatian rakyat Indonesia saat ini. Pemerintah serta pihak pihak terkait harus segera menyelesaikan pelanggaran HAM berat ini yang diduga pihak aparat kepolisian juga terlibat. Apa sebenarnya pemicu konflik di Mesuji sampai terjadi pembunuhan sadis di Mesuji? Banyak versi kronologis konflik Mesuji bahkan antara pihak kepolisian, pemerintah serta warga sekitar memiliki versi yang berbeda terkait kronologis konflik dan pembantaian di Mesuji. Berikut kronologis konflik Mesuji sampai terjadi pembunuhan dan pembantaian di Mesuji. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) membeberkan penyebab insiden pembantaian petani di Kabupaten Mesuji, Lampung, dan Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Kemuring Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Menurut Kepala Departemen Advokasi Walhi Mukri Friatna, pembunuhan warga yang dipicu sengketa tanah dengan penguasaha perkebunan kelapa sawit sejatinya tidak hanya terjadi di Kabupaten Mesuji, Lampung dan OKI, Sumsel, melainkan di beberapa daerah lain dalam kurun waktu berbeda. Kendati, kata dia, motifnya nyaris sama.

Mukri menjelaskan, kasus Lahan di Register 45 Way Buaya, di dusun Pelita Jaya Desa Talang Batu Kecamatan Mesuji Timur, Kabupaten Mesuji, Lampung mencuat sejak awal 2002 sampai 6 NOvember 2010.

Konflik berawal dari Register 45 yang merupakan lahan adat desa Talang Batu seluas 7 ribu hektar yang diklaim ke Hutana Tanaman Industri Register 45 yang dikuasai oleh PT Inhutani V dan PT Silva Lampung Abadi. Semula berdasarkan SK Menhut No. 688/Kpts-II/1991 luas Reg. 45 adalah 32.600 hektare. Kemudian 17 Februari 1997 Menhut mengeluarkan SK No.93/Kpts-II/1997 tentang menambah uas Hak Pengelolaan kawasan HTI menjadi 43.100 Hektare. Menjawab usul masyarakat adat mengenai klaim tanah selas 7000 hektare. Kemudian diterbitkan kembali surat No. 1135/MENHUTBUN-VIII/2000. Intinya hanya menyetujui lahan seluas 2.600 Hektare.

Konflik lain di Mesuji terjadi pada 1994, saat PT BSMI mendapatkan Ijin Lokasi dan 1997 dan mendapatkan HGU dengan kuas area 17 ribu hektare. Pembagiannya 10 ribu hektare diberikan kepada perusahaan untuk dikeloa pengusaha dan 7 ribu hektare meruakan tanah Plasma diberikan kepada warga untuk mengelola dan mendapatkan keuntungan hasil tanaman.

“Khusus untuk kasus PT BSMI yang ada Mesuji Lampung tindakan keji pembunuhan terjadi bukan karena adanya bentrokan seperti yang diberitakan di televisi. Kedua korban Indra Safei (20) dan pamannya bernama Tutul (21) sedang melitas di area perkebunan sawit untuk membeli obat pembunuh hama, tiba-tiba dicegat oleh oknum yang diakui Tutul adalah Brimob dan preman bayaran untuk mengamankan area perkebunan. Melihat Safei dianiya hingga tewas, Tutul lari namun akhirya tertembak dan ditikam pisau yang disinyalir milik anggota Brimob,” jelas Mukri di Kantor Walhi, Jakarta, Jumat (16/12/2011).

Menurut Mukri, kekerasan terhadap petani memang sudah lama terjadi di wiayah Mesuji, baik Lampung maupun Sumatera Selatan. Dia pun mendesak pemerintah cepat menyelesaikan kasus ini dan menarik polisi yang ngepos di sana, karena mereka merupakan centeng perusahaan yang selalu menganiaaya warga.

Sementara kasus PT SWA versus Desa Sei Sodong, Kecamatan Mesuji, OKI, Mukri mengatakan, terjadi pada 1997. Saat itu terbangan kerjasama antara PT. SWA/PT Trekreasi Margamuya untuk membangun kemitraan pembangunan kebun sawit di atas lahan seluas 1.068 Hektare di luar milik H Saefei seluas 533 Hektare.

Dalam perjanjian dijelaskan masyarakat akan mendapat keuntungan yang tertera secara nominal dari tahun pertama hingga kesepuluh. “Tapi nyatanya itu tidak dibayarkan kepada warga pemilik lahan,” ujarnya.(okezone)

Semenjak menjadi sorotan beberapa hari terakhir ini terkait dugaan ada video “pembantaian” warga, wilayah Mesuji, Provinsi Lampung, mendadak ramai dikunjungi wartawan dari berbagai media. Namun, mayoritas wilayah di pelosok Mesuji ini sangat tidak mudah dijangkau.

Untuk mencapai salah satu lokasi konflik, yaitu di Desa Sritanjung, Kecamatan Tanjung Raya, misalnya, pemburu berita harus bersusah payah mencapainya. Kondisi jalan menuju ke wilayah terpencil ini sangatlah buruk karena masih berupa tanah yang pada musim hujan penuh lumpur dan licin. Bahkan, untuk mencapainya, para wartawan harus rela menumpang truk petani dan melakukan off road melintasi jalan berlumpur.

Kendaraan mereka pun harus ditinggal di desa terdekat sejauh 12 kilometer dari Desa Sritanjung dan ganti menumpang truk yang biasa dipakai mengangkut kelapa sawit. “Naik mobil biasa dijamin bakal macet. Pakai truk yang sudah biasa aja tetap berisiko terjebak lumpur,” ucap Syamsuddin (34).

Terbukti, pada Jumat (16/12/2011) malam, truk yang ditumpangi belasan wartawan dan kru televisi, termasuk Kompas, terjebak di jalan berlumpur tebal di tengah perkebunan sawit di Sritanjung.

Sebelumnya, truk beberapa kali tergelincir akibat licinnya jalan. Beruntung, dengan penuh solidaritas, warga yang mengawal wartawan dibantu sebuah truk yang melintas segera menarik truk naas yang terjebak di jalan yang mirip kubangan kerbau itu.

Setelah satu jam terjebak, truk ini dapat terbebas dari lumpur. Di sepanjang perjalanan ditemui sebuah mobil Honda CRV yang ditinggalkan begitu saja di tengah jalan akibat terjebak kubangan.

Mengingat lokasinya yang tidak mudah dicapai, jarak tempuh ke Sritanjung dari Pasar Simpang Pematang, Mesuji, memerlukan waktu 4 jam. Padahal, jarak tempuh hanya sekitar 30 km.
(sumber:kompas.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s