MELIHAT JEJAK ASAL MUASAL MUSLIM DI PERANCIS

 Mulanya disebut kolonial, kini Muslim dikatakan sebagai warga negara Prancis. Namun begitu, mereka masih menghadapi sejumlah tantangan.
Jumlah warga Muslim di Prancis saat ini diperkirakan mencapai lima juta penduduk, menjadikannya negara dengan komunitas Islam terbesar di Eropa Barat. Mulanya, penduduk Muslim disebut kolonial.
Pada 1904, sekitar lima ribu Muslim bekerja di Prancis. Mereka tersebar di berbagai kota seperti Paris dan marseille. Mereka adalah buruh pabrikan dan dikenal sebagai Kabyles karena berasal dari wilayah Kabyles, Aljazair Utara.
“Mereka hidup seperti warga Prancis. Beberapa meninggalkan pakaian budayanya dan mengenakan baju Eropa. Mereka mengadopsi pergerakan buruh lokal,” ujar sejarawan Linda Amiri.
Pada masa itu, tak ada yang membayangkan para pekerja dari Afrika Utara ini akan tinggal turun temurun di Prancis. Saat Perang Dunia II, mereka ikut bertempur untuk Prancis dan membantu Prancis membangun kembali komunitasnya.
Jumlah Muslim Aljazair yang berada di Prancis meningkat tajam menjadi 100 ribu orang. Mereka hidup di bawah garis kemiskinan. Sebab, menurut sosiolog Ahmed Boubeker, mereka mulanya tak datang untuk menetap.
“Mereka malah bekerja setiap saat, menghasilkan uang dan mengirimkan semuanya ke rumah,” ujarnya.
Perang Dunia II, sekitar 15 ribu warga Muslim tinggal di Ibukota Paris. Mereka menghadapi pilihan. Memberontak atau membaur dengan lokal agar tetap low profile. Akhirnya membaur jadi pilihan agar bisa tetap berada di negara itu.
Pada 1970-an, terjadi peningkatan terhadap kejahatan rasis. Puncaknya pada 1973 di Marseille, saat 12 orang ras Arab dibunuh dalam awktu beberapa hari. Aparat Prancis yang kewalahan, sempat tergoda untuk memulangkan seluruh imigran Muslim.
Lalu pada 1977, Presiden Valery Giscard d’Estaing meluncurkan skema repatriasi yang menargetkan kepulangan 500 ribu orang. Mereka mengincar orang Aljazair. Namun keturunannya yang lahir di Prancis tak mau menyerah begitu saja.
Repratiasi itu tak sukses, hanya mempengaruhi sedikit orang. Anak-anak keturunan Aljazair, Maroko dan Tunisia tetap tinggal di Negeri Eiffel ini. Pada 1981, Muslim telah bekerja di Prancis selama 75 tahun.
Pada 10 Juli 1981, terjadi kerusuhan yang bermula di daerah pinggiran, tempat tinggal komunitas Muslim. “Anak-anak pekerja imigran membakar mobil-mobil. Mereka menuntut tempat di Prancis, karena merasa lahir di negara ini,” lanjut Boubeker.
Pergolakan antara pribumi dan pendatang Muslim terus berlanjut. Muncul kisah pada September 1989, tiga siswi diskors karena menolak melepaskan penutup kepala mereka. Sejak inilah masalah penutup wajah (cadar) mulai heboh di Prancis.
Pada April 2011, Prancis menjadi negara Eropa pertama yang mengeluarkan UU larangan mengenakan cadar di publik. Pelanggar dikenakan denda dan apabila mereka ‘dipaksa’ oleh suami, maka si suami juga akan didenda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s