Bank-Bank Besar Berperang Dana Murah

Suatu gebrakan dilakukan PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) lewat kesepakatan interkoneksi ATM (automatic teller machine). Melalui kerja sama tersebut, sekitar 9,7 juta nasabah BCA kini bisa menggunakan 9.000 ATMBank Mandiri untuk bertransaksi. Sebaliknya, sekitar 10 juta nasabah Bank Mandiri kini bisa menggunakan 7.400 ATM BCA. Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini, optimistis kerja sama itu bakal menciptakan aliran dana yang lebih cepat dan efisien bagi kedua bank dalam meningkatkan funding.

Dengan adanya kemudahan itu, nilai tawar BCA dan Bank Mandiri sebagai dua bank perkasa dalam perang perebutan dana murah makin tinggi. Alhasil, kompetisi perebutan dana di kelompok bank besar pun kian sengit. Pasar kembali akan menunggu kolaborasi fenomenal yang bakal dilakukan para pemain besar lainnya untuk bersaing memperebutkan dana murah.
Hingga Juni 2011, jumlah ATM Bank Mandiri mencapai 8.480, naik pesat dibandingkan dengan Juni 2010 sebanyak 5.224 dan Desember 2010 yang sebanyak 6.496. JumlahATM Bank Mandiri yang menggunakan jaringan Link telah mencapai 18.939, naik signifikan dibandingkan dengan Juni 2010 yang sebanyak 14.359 ATM. Jumlah ATMBCA sebagai mitra interkoneksinya kini juga meningkat pesat, dari 6.781 ATM pada Juni 2010 menjadi 7.709 ATM pada Juni 2011.
Berdasarkan data Biro Riset Infobank (birI), bank dengan ATM terbanyak masih diduduki Bank Mandiri dengan jumlah ATM mencapai 8.480 per Juni 2011. Di bawahnya ada BCA dengan jumlah ATM mencapai 7.709. Sementara, posisi Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Negara Indonesia (BNI), dan CIMB Niaga berada di bawah kedua bank besar tersebut, dengan jumlah ATM masing-masing 6.722, 5.169, dan 1.510.
Sampai Juni 2011, pangsa Bank Mandiri untuk dana pihak ketiga (DPK) mencapai 14,87% terhadap total DPK perbankan. Di bawah Bank Mandiri ada BRI yang pangsa DPK-nya 12,18%. Sementara, pangsa BCA terhadap total DPK perbankan mencapai 11,72%.
Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja mengakui, pangsa tabungan BCA sedikit menurun. Namun, nakhoda baru BCA ini mengungkapkan, jika ditelusuri lebih lanjut, ada bank yang memberikan suku bunga tabungan sebesar suku bunga deposito, yang menurut Jahja itu tak bisa disebut sebagai tabungan. Jahja menyebutnya deposito yang bisa ditarik setiap hari.
Sementara itu, BNI terus menggenjot DPK-nya dengan menargetkan pertumbuhan sebesar 70% pada 2016. Untuk mencapai target jangka panjang itu, Krishna Soeparto, Direktur Korporasi BNI, mengatakan pihaknya akan mendorong pertumbuhan bisnis cash management dan pengelolaan dana operasional. Pangsa DPK BNI pada Juni 2011 mencapai 7,99% terhadap total industri. Pada periode tersebut komposisi deposito yang merupakan dana mahal mencapai 60,99% dari total DPK.
Derasnya kucuran kredit perbankan dewasa ini menjadi alasan kuat bagi Bank CIMB Niaga untuk mendorong pertumbuhan DPK-nya, kendati mesti berupaya keras untuk memenangkan persaingan. Pangsa Bank CIMB Niaga terhadap total industri yang mencapai 4,96% pada periode Juni 2011 menjadikan posisinya masih di bawah Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI.
Untuk mendorong pertumbuhan DPK-nya, Direkur Utama CIMB Niaga Arwin Rasyid mengaku, pihaknya akan meningkatkan layanan electronic banking (e-banking). Hingga Juni 2011, DPK Bank CIMB Niaga tumbuh 15,78% secara year on year (yoy) menjadi Rp120,91 triliun.
Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) per Juni 2011, sebanyak 10 bank besar  dengan total DPK Rp1.601,28 triliun menguasai sekitar 65,68% pangsa DPK perbankan yang pada periode tersebut mencapai Rp2.438,01 triliun. Jumlah DPK perbankan hingga Agustus 2011 mencapai Rp2.459,89 triliun, naik 17,54% dibandingkan dengan Agustus 2010 yang sebesar Rp2.092,78 triliun.
Porsi dana murah pada Agustus 2011 yang mencapai Rp1.309,89 triliun sedikit menurun dibandingkan dengan Agustus tahun lalu, dari 53,98% menjadi 53,25%. Komposisi DPK perbankan hingga Agustus 2011 yaitu giro 21,31%, tabungan 31,94%, dan deposito 46,75%.
Meningkatnya DPK perbankan menjadi sinyal positif. Saat kisis mengancam, bank memang dituntut memiliki likuiditas yang cukup sebagai bantalan jika bank kolaps. Di lain sisi, saat bank dinilai kolaps, bank juga harus siap mengembalikan uang nasabah. Sampai di titik itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang akan mengambil peran.
Menurut data LPS, hingga Agustus 2011, jumlah rekening nasabah bank umum mencapai 100.162.921. Jumlah rekening nasabah tabungan mencapai 94.619.718, jumlah rekening nasabah giro 2.667.350, dan jumlah rekening nasabah deposito 2.865.218.
Masih berdasarkan data LPS, jumlah rekening dengan nilai simpanan di atas Rp5 miliar porsinya mencapai 0,04% dari total rekening atau mencapai 4.445 rekening. Sementara, rekening dengan nilai simpanan di bawah Rp100 juta mencapai 97.703.915 rekening atau 97,54% dari jumlah rekening nasabah bank umum. Data LPS juga menyebutkan, jumlah simpanan yang dijamin LPS sampai Agustus 2011 mencapai Rp1.510,18 triliun (sumber:infobank)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s