Nol Defisit Bukan Jalan Terbaik

Konsep zero defisit dinilai bukan jalan terbaik bagi Indonesia. Sebab, untuk mengkompensasi dampak negatif dari krisis Eropa, RI butuh obligasi terutama untuk infrastruktur.

Kenaikan defisit fiskal yang terjadi terus menerus telah melambungkan rasio utang terhadap Gross Domestic Product (GDP). Kondisi itu telah membawa negara-negara Uni Eropa pada jurang krisis utang yang dalam.
Karena itu, negara-negara berkembang menjadi paranoid dengan utang. Tak terkecuali Indonesia. Gagasan zero defisit pun muncul dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang diamini Menteri Keuangan Agus Martowardojo.
Pengamat ekonomi Aviliani mengatakan, saat Eropa dan AS krisis, akan banyak dana masuk (capital inflow) ke Tanah Air. Menurutnya, pemanfaatan dana itu harus diarahkan pada sektor riil. Jangan sampai, dana tersebut menumpuk di pasar modal sehingga keuntungan yang diperoleh investor bukan dari sektor riil melainkan akibat bubble. Itulah yang harus diwaspadai.

Karena itu, lanjutnya, untuk mengkonversi capital inflow ke sektor riil, pemerintah bisa menjawabnya dengan penawaran saham perdana (IPO) berbagai BUMN. “Pemerintah juga bisa mengeluarkan obligasi untuk infrastruktur,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (22/11).
Aviliani mencontohkan, pemerintah DKI diberi kebebasan untuk mengeluarkan obligasi daerah untuk mempercepat infrastruktur. Bisa juga dipilih daerah mana saja dengan APBD yang besar diberikan kesempatan menawarkan obligasi infrastruktur. “Justru menteri keuangan salah besar mengatakan soal zero defisit. Indonesia justru harus meningkatkan defisit,” timpalnya.
Ia menegaskan, prinsip negara berbeda dengan prinsip perusahaan yang harus untung. Sedangkan negara, bagaimana harus mensejahterakan rakyatnya dengan cara membangun infrastruktur. “Untuk itu, tidak masalah berutang,” imbuhnya.
Apalagi, kata dia, rasio utang terhadap Gross Domestic Product (GDP) masih rendah di level 27% atau jauh lebih sehat dibandingkan negara lain yang sudah mencapai 110%-an untuk kawasan Eropa. “Maksud saya adalah Indonesia bisa menaikkan rasio utangnya dengan batas yang wajar dan untuk tujuan infrastruktur,” tandasnya.
Karena itu, Aviliani menilai, defisit fiskal 2012 bisa dinaikkan hingga maksimal 3% dari 1,8% pada 2011. Hingga level 2,5% sebenarnya aman. Apalagi, dengan GDP Indonesia yang terus naik. “Buat apa pemerintah mengirit, jika tidak ada pembangunan,” papar Aviliani.
Peningkatan defisit, Aviliani kembali mengatakan, tujuan akhirnya adalah untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menyanggupi imbauan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menekan defisit, bahkan sampai 0%. Agus Marto menilai himbauan Presiden untuk menekan defisit merupakan arahan agar APBN menjadi seimbang. “Jadi, itu lebih arahan dari Pak SBY agar seluruh jajaran dan pembantunya bisa berpikir untuk memunyai budget yang lebih sehat di masa datang,” ujar Agus Marto. (sumber: inilah.com)

baca juga: perbankan syariah, industri rotan, wapres minta jemput bola

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s